Di Indonesia, di era teknologi yang canggih ini sayangnya pemikiran masyarakatnya masih tumpul. Banyak
sigma tentang “Ngapain sih perempuan sekolah terus, lah toh ujungnya di dapur
juga?”, sigma seperti ini yang membuat wanita tidak open minded dan beranggapan
laki-laki yang harus bisa semuanya, laki-laki yang harus lebih tinggi pendidikannya, laki-laki dan laki-laki. Dan
lucunya mereka yang pemikirannya tumpul berfikiran bahwasanya kalau perempuan
sekolah tinggi maka susah mendapatkan jodoh dan banyak laki-laki yang minder.
Perjuangan R.A Kartini untuk memperjuangkan emansipasi perempuan
dulu ternyata disingkirkan oleh pemikiran-pemikiran yang tumpul. Pada dasarnya semua
orang berhak untuk mendapatkan pendidikan tinggi baik itu laki-laki maupun
perempuan. Dalam Islam kewajiban menuntut itu wajib bagi setiap muslim dan
tidak ada keterangan untuk laki-laki maupun perempuan.
Sebenernya untuk apa sih perempuan berpendidikan tinggi? Ya,memang
benar perempuan akan menjadi ibu dan akan berkecimpung di dapur, kasur, dan
sumur. Tapi apa alasannya mengapa pendidikan bagi perempuan itu sangat penting?
Alasan yang pertama adalah mengembangkan diri dan membangun
generasi. Wanita belajar atau berpendidikan tinggi bukan untuk menandingi
laki-laki loh. Belajar adalah salah satu cara untuk mengembangkan diri. Di era
teknologi 4.0 ini keadaan menuntut untuk bisa update teknologi yang ada.
Alasan yang kedua adalah mendidik generasi setelahnya. Ketika
perempuan menjadi ibu, perempuan juga butuh ilmu. Jika seorang perempuan itu
tidak punya ilmu, apa yang ingin ia ajarkan atau bekalkan kepada anaknya?, ibu
adalah sekolah pertama anaknya, jika sekolah pertama anaknya hancur maka hancur
juga tangkapan pertama anak.
Dan ingat bahwasanya berkecimpung di dapur dan pendidikan tinggi
itu keharusan bagi setiap orang. Tetapi pertanyaan, dapur seperti apa yang
ingin kamu ciptakan? Jika kamu memiliki pendidikan yang tinggi apakah dapurmu
sama seperti dapur orang biasa?
-Hanya Pendidikan yang bisa
menyelamatkan masa depan, tanpa pendidikan Indonesia tak mungkin bertahan-